Monday, 29 April 2013

Bahan kimia beracun



Bahan yang disebut sebagai bahan beracun adalah jika pamaparannya melalui mulut LD50>25 atau 200 mg/kg berat badan, atau pemaparan melalui kulit LD50>25 atau 400 mg/kg berat badan, atau melalui pernapasan mg/L atau 2 mg/L.
Bahan kimia beracun didefinisikan sebagai bahan kimia yang dalam jumlah kecil menimbulkan keracunan pada manusia atau makhluk hidup lainnya. Pada umumnya zat-zat toksik masuk lewat pernafasan dan kemudian beredar ke seluruh tubuh atau menuju organ-organ tubuh tertentu. Zat-zat tersebut dapat langsung menggangu organ-organ tubuh tertentu seperti hati, paru-paru, dan lain-lain, tetapi dapat juga zat-zat tersebut berakumulasi dalam tulang, darah, hati, ginjal, atau cairan limfa dan menghasilkan efek kesehatan dalam jangka panjang.
Pengeluaran zat-zat beracun dari dalam tubuh dapat melalui urine, saluran pencernaan, sel epitel, dan keringat. Sifat toksik dari suatu zat, selain ditentukan oleh sifat alamiah suatu zat, juga ditentukan oleh jenis persenyawaan dan keadaan fisik tersebut. Bahan-bahan beracun dalam industri dapat digolongkan dalam beberapa golongan, yakni :

Senyawa logam dan metaloid          -     Pb
-          Hg
-          Cadmium
-          Krom
-          Arsen
-          Fosfor

            Bahan pelarut                                 -     Hidrokarbon Alifatik (bensin, minyak tanah)
-          Alkohol
-          Khloroform

            Gas-gas beracun                            -     Aspiksian sederhana
-          Na, Argon, He
-          Asam sianida
-          Asam sulfida
-          Nitrogen oksida
-          Karbon monoksida

            Bahan karsinogenik                         -     Asbes
-          Krom
-          Benzena
-          Naftil amin
-          Bensidin

             Pestisida                                        -     Organofosfat
-          Organoklorin

Sunday, 28 April 2013

Kimia Industri


Kimia Industri adalah suatu jurusan yang mempelajari tentang pengolahan produk bahan di dunia industri yang menggunakan bahan-bahan kimia. Tujuan utama kimia industri adalah mengolah bahan mentah menjadi bahan setengah jadi.

Saturday, 20 April 2013

Bahan Kimia Mudah Terbakar



Bahan kimia mudah terbakar adalah bahan mudah bereaksi dengan oksigen dan dapat menimbulkan kebakaran yang sangat besar. Reaksi kebakaran yang amat cepat juga dapat menghasilkan suatu ledakan. Bahan cair dinyatakan mudah terbakar bila titik nyala > 21 oC dan 55 oC pada tekanan 1 atm. Bahan cair dinyatakan sangat mudah terbakar 1 atm. Gas ini dinyatakan mudah terbakar jika titik didih < 20 oC pada tekanan 1 atm.

Bahan mudah terbakar dapat di bedakan menjadi :

1.      Zat cair mudah terbakar
Zat ini adalah yang paling banyak ditemui dalam industri yang dikenal sebagai pelarut organik. Contohnya adalah eter, alkohol, aseton, benzena, heksa, dan lain-lain. Pelarut-pelarut tersebut pada suhu kamar menghasilkan uap yang dalam perbandingan tertentu dapat terbakar oleh adanya api terbuka atau loncatan listrik. Pengalaman menunjukan bahwa uap pelarut dapat berdifusi sejauh 3 meter menuju titik api atau seolah-olah kita melihat api menyambar pelarut organik pada jarak tersebut.
Kecenderungan suatu pelarut organik untuk mudah terbakar selain ditentukan oleh titik nyala, titik terbakar, dan daerah konsentrasi mudah terbakar, juga ditentukan oleh titik didih. Suhu tersebut menentukan banyak sedikitnya, uap dihasilkan pada suhu tertentu. Semakin rendah titik didih, berarti semakin mudah menguap atau semakin mudah terbakar. Contohnya adalah eter dengan titik didih 14 oC  jauh lebih mudah terbakar dari pada alkohol dengan titik didih 79 oC.
Selain itu berat jenis uap relatif terhadap udara juga penting, karena uap lebih berat dari udara akan menyebabkan uap akan merayap da atas tanah. Sedang uap yang lebih ringan dari udara akan cenderung naik ke atas, atau membentuk kantong gas di atap gendung.
-          Berat jenis  pelarut organik relatif terhaap air perlu pula di perhatikan. Pelarut organik yang lebih ringan dari air dan tidak larut dalam air, seperti benzena, bensin, dan heksa, bila terbakar akan amat berbahaya kalau disiram dengan air. Penggunaan pelarut organik dalam industri antara lain :
§  Industri cat            : petroleum eter, alkohol, aseton, eter, heksa, MIBK
                              (Metil Iso Betil Keton)
§  Industri kertas       : karbon disulfida
§  Pengolahan minyak : bensin, benzena, toluena, dan xilene

2.      Zat padat mudah terbakar :
Zat padat mudah terbakar dalam industri adalah belerang (sulfur), fosfor, kertas, hidrida logam, dan kapas. Pada umumnya zat padat lebih sukar terbakar dari pada dalam bentuk cair. Meski demikian zat padat berbentuk serbuk halus sangat mudah terbakar.

3.      Gas mudah terbakar
Gas mudah terbakar dalam industri misalnya adalah gas alam, hidrogen, asetilen, etilen oksida. Gas-gas tersebut amat cepat terbakar sehingga sering menimbulkan ledakan

Karekter beberapa bahan organik mudah terbakar :

No.
Pelarut
daerah
kons %
mudah
terbakar
Titik
didih oC
Titik
nyala oC
Titik
nyala oC
W
cairan
W
uap
1.
Aseton
3-13
55
-18
538
0.79
2.0
2.
Benzena
L4-8
80
-11
562
0.88
2.8
3.
Bensin
14-7.6
38-204
-43
280-456
0.8
3.04
4.
Etil alkohol
13-19
79
12
432
0.79
1.59
5.
Etil eter
1.84-48
34
-45
180
0.71
2.55
6.
Heksena
LP7.5
68
-22
261
0.66
2.97
7.
Karbon sulfida
1-44
46
-30
100
1.26
2.6
8.
Metanol
6-36.5
65
12
464
0.79
1.1
9.
Metil etil keton
2-10
80
-7
515
01.81
2.5
10.
petroleuin
1-6
30-60
-57
288
0.6
2.5

                                                            

Friday, 19 April 2013

PROSES PEMBUATAN BAHAN BIODISEL


         

           Tujuan Pembuatan Bahan Biodisel
a.       Menguji mutu produk biodisel
b.      Menangani bahan sebelum di refluk
c.       Membuat biodisel dari minyak goreng bekas
d.      Mengoperasikan peralatan pembuatan biodisel di laboraturium

    II.                                   Teori Dasar Biodisel
Biodisel merupakan senyawa sederhana dengan kandungan enam sampai tujuh macam ester asam lemak. Biodisel didefinisikan sebagai metal ester dengan panjang rantai karbon antara 12 sampai 20 dari asam lemak turunan dari lipid contohnya minyak nabati atau lemak hewani. Minyak nabati atau lemak hewani dapat dibuat biodisel dengan reaksi transesterifikasi dengan menggunakan alkohol. Komposisi dan sifat kimia dari biodisel tergantung pada kemurnian, panjang pendek, derajat kejenuhan dan struktur rantai alkil asam lemak penyusunannnya. Biodisel merupakan bahan bakar alternatif dari sumber minyak kelapa jagung, minyak kelapa, minyak jarak pagar, minyak biji kapuk, dan masih ada lebih dari 30 macam tumbuhan  Indonesia yang potensial untuk dijadikan biodisel.

 III.                                    Percobaan di laboraturium
·         Bahan
Ø  Minyak nabati
Percobaan ini menggunakan minyak goreng bekas sebagai bahan baku utama pembuatan biodisel.
Ø  Katalis
Katalis yang akan digunakan dalam penelitian ini, yaitu katalis basa (KOH) untuk reaksi trasesterifikasi. 
Ø  Alkohol
Alkohol yang digunakan di dalam penelitian ini adalah metanol (CH3OH) atau etanol kemurnian yang digunakan untuk metanol 99,5%

·         Alat
-   Labu destilasi yang dipakai berjenis labu leher tiga. Peralatan ini dilengkapi dengan termometer sebagai indikator suhu. Sebagai pemanas digunakan hot plate dan selama reaksi dilakukan pengadukan untuk menghomogenkan larutan dengan menggunakan magnetic stirrer.
-    Kondensor dipakai untuk mengembalikan metanol yang telah teruap kembali ke labu reaksi. Sebagai fluida pendingin digunakan air utilitas laboraturium.

 IV.                                     Prosedur Pembuatan
1.      Timbang 2 gram kristal KOH
2.      Timbang 20 gram metanol
3.      Larutkan kristal KOH dalam metanol dengan menggunakan pengaduk
4.      Timbang 200 gram minyak jelantah
5.    Masukkan ketiga bahan dalam labu leher tiga, kemudian panaskan pada suhu 55 oC selama 1 jam sambil diaduk (pertahankan suhu sekitar 55oC selama 1 jam)
6.    Campuran yang sudah dipanaskan masukkan ke dalam corong pisah, kemudian diamkan beberapa saat sampai terbentuk 2 lapisan
7.      Keluarkan gliserin dan tampung biodisel yang diperoleh ke dalam gelas piala
8.    Netralkan biodisel dengan menggunakan larutan asam acetat (cek dengan manggunakan kertas pH)
9.    Cuci biodisel dengan cara menambahkan air hangat ke dalam biodisel, kemudian aduk dengan menggunakan pengaduk kaca
10.  Masukkan ke dalam corong pisah, diamkan beberapa saat kemudian keluarkan airnya
11. Ulangi proses pencucian tersebut berulang-ulang sampai air pencuci ke dalam corong pisah menjadi jernih.

Semoga artikel ini bermanfaat bro !!!!

Total Pageviews